pernah ngak, anda merasakan frustasi? dan bertanya-tanya kenapa tidak berjalan sesuai dengan perkiraan?
Kenapa hidupku seperti ini? Adalah
kalimat yang sering aku suarakan diumurku yang 20-an. Aku tidak tahu kenapa
bisa seperti ini.
Ketika kecil aku merasa hidupku baik-baik saja, merasa bahwa
kehidupanku yang akan datang, akan menjadi lebih berbahagia. Tapi kemudian
kehidupan yang kubayangkan hancur berkeping-keping seperti kaca yang terhempas.
Banyak hal yang perlahan-lahan aku mengerti ketika mulai beranjak remaja. Salah
satu yang paling berpengaruh adalah materi. Karena materi perhatian orang tua mulai
teralihkan, waktu kebersamaan kamipun semakin menipis. Aku mulai merasa
eksistensiku sebagai seorang anakpun perlahan-lahan memudar.
Ketika usiaku memasuki tahap dimana anak-anak seusiaku
mengekpresikan dirinya dengan bebas, aku dipaksa untuk melompati bagian itu,
tidak ada waktu untuk menikmati hidup. Jika diandaikan, kami keluarga yang
memiliki anggota 4 orang, jika dalam rumah mendapatkan 1 kue (masalah), maka kue tersebut akan dibagi menjadi 3. Kadang (untuk ukuran anak-anak) aku
mendapatkan bagian yang besar, kadang mendapatkan bagian yang keras. Aku tidak
dilibatkan dalam fisik tapi dalam psikis. Aku mencintai keluargaku, karena itu
yang terbaik yang bisa aku terima. Tapi kadang ada saat-saat (aku sangat
menyesal pernah memikirkan ini) aku tidak ingin dilahirkan. Akupun mencari dan
menciptakan tempat dimana aku diterima, aku berusaha agar bias mengekspresikan
segala yang kurasakan, tapi ternyata aku hanya mengubur diriku yang
sesungguhnya semakin dalam dan hanya menciptakan sosok baru yang bertolak belakang.
Ternyata aku menciptakan tempat untuk lari dan bersembunyi dari dunia.
Aku sangat beruntung karena dunia yang aku ciptakan ternyata
memiliki andil yang besar dalam perkembangan mentalku. Aku bisa lebih mencintai
diri dan menerima keadaan. Banyak bersenang senang dan tahu bagaimana melupakan
kesedihan. Aku sedikit demi sedikit mulai meruntuhkan dinding pembatas dgn
dunia luar, membiarkan orang lain melihat dan memasuki hatiku dengan mudah,
ternyata itu merupakan keputusan yang kurang tepat karena itu membuka jalan
kepada orang lain agar mudah menyakitiku. Aku ingin melihat dunia luar dari
berbagai sisi tapi tidak ingin tercemar, kemudian aku membangun sebuah rumah kaca
milikku, aku mengurung diri didalamnya sambil menyembuhkan diri. Tapi luka
adalah luka, berapapun lamanya waktu yang dibutuhkan untuk sembuh, tetap
memiliki bekas.
Aku takut terluka, karena tahu bagaimana rasanya sakit. Takut
terlalu percaya karena tahu sakitnya dikhianati. Takut bermimpi karena tahu
rasanya kecewa ketika terbangun.